Penetapan Hasil Pilkada Sumsel oleh KPUD

September 11, 2008 pukul 1:37 pm | Ditulis dalam Dunia Ini Panggung Sandiwara.. | 13 Komentar
Tag: , , , , , , , , ,

Ahh,,akhirnya bisa posting juga. Setelah tadi selama kuliah cuma bisa memantau lewat radio. Setelah deg-degan dari abis sahur tadi,,akhirnya saya dapet berita.

KPUD Sumsel ternyata jadi melakukan sidang pleno untuk menetapkan pemenang Pilkada Sumsel hari ini (11/09). Rapat pleno ini dijaga ketat oleh polisi. Sejak semalam, polisi sudah mempersiapkan pagar kawat besi sejauh 1 kilometer dari gedung KPUD *yang bener be? ayshh dak percayo aku* serta water canon yang datang tadi pagi. Semua ini disiapkan untuk mengantisipasi kejadian seperti tanggal 9 September lalu.

Polisi berjanji akan menindaklanjuti siapapun yang berusaha mengganggu rapat. Rapat ini dihadiri Continue Reading Penetapan Hasil Pilkada Sumsel oleh KPUD…

Horee.. Besok Nyoblos!!

September 3, 2008 pukul 6:28 pm | Ditulis dalam Dunia Ini Panggung Sandiwara.. | 1 Komentar
Tag: , , , ,

Pilkada Sumsel akan dilakukan besok. Berdasarkan data KPU, ada 5.089.536 orang pemilih yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) akan mencoblos di 2.980 TPS.

Tadi siang oc dah tanya ma beberapa temen, ada yang ngaku belum dapet kartu pemilih, tapi ada juga yang udah dapet. Oc dan keluarga sendiri udah dapet tanggal 1 kemaren.

TPS di beberapa tempat yang oc liat di sepanjang perjalanan ke kampus tadi keliatannya belom siap. Baru ada tenda aja.

Berdasarkan berita lokal, tadi malam kotak suara dan bilik suara baru didistribusikan oleh KPUD Kota Palembang. Untuk kertas suara baru didistribusikan hari ini. Namun ada kendala dalam pendistribusian di daerah OKI dan Muara Enim. Penyebabnya adalah kendala dalam proses entry data DPT. Ada sekitar 30 ribu pemilih tambahan di darah tersebut, sehingga butuh tambahan kertas suara.

Menurut ketua KPUD Sumsel, bagi yang tidak mendapatkan kartu pilih, namun tercantum dalam DPT dapat mencoblos di lingkungan tempat tinggalnya dengan menggunakan kartu identitas seperti KTP, SIM, Paspor, dan Ijazah.

Sore ini,,jam 4an, oc memantau TPS dimana oc bakal nyoblos besok. PErsiapan udah lumayan,,Tenda dan meja udah siap. Kebetulan di sana ada Pak RW ikut memantau, ada kesempatan nih oc tanya2.
Menurut si bapak,
1. ada beberapa warga yang belom cukup umur, tapi dah dapet kartu pemilih. Oc cross check ke salah satu nama yang disebut bapak RW, ternyata bener.. umurnya baru 13 tahun, tapi dah dapet kartu. Ini kali kedua dia dapet kartu pemilih, pertama di pemilihan walikota.

2. ada beberapa warga yang ga dapet kartu pemilih. Sebagian menanyakan haknya untuk memilih, namun sebagian lagi diem aja.

3. Daerah oc kabarnya kekurangan kertas suara. Jumlah pemilih tambahan ga ada back up kertasnya. Hayyoooo…

4. Ada beberapa orang yang dapet kartu dobel. Nah lo!

Nenek oc sendiri dapet kartu dari TPS deket rumah oc. Tapi tadi pagi, BuDe oc telfon. Katanya nenek oc dapet kartu pemilih dan undangan untuk ikut pilkada di TPS deket rumahnya. Weleh-weleh..
Kacawwwww!!

Debat Calon Gubernur Sumsel di Metro TV

Agustus 29, 2008 pukul 11:35 pm | Ditulis dalam Dunia Ini Panggung Sandiwara.. | 8 Komentar
Tag: , , , , , , ,

Debat Calon Gubernur Sumsel, JUmat (29/8)di Metro TV ternyata tidak dihadiri oleh Bapak Syahrial Oesman.

Pada pagi hari, Sumatera Ekspres, koran lokal Sumsel menulis tentang hal ini. Alasan ketidakhadirannya karena harus mendampingi ibu Megawati Soekarnoputri, ketua umum DPP PDI Perjuangan, untuk berkampanye di Lubuk Linggau. Malamnya rombongan akan bertemu dengan tokoh masyarakat di Lubuk Linggau.

Sebelumnya tim sukses SOHE sudah meminta pengajuan pengunduran, tapi karena KPUD dan MetroTV punya agenda masing-masing, akhirnya penajuan tersebut tidak dapat dikabulkan.

Kehadiran SOHE, kata mereka, bukan berarti takut atau tidak siap. Tapi karena masalah ketidaktepatan waktu, akhirnya tidak bisa hadir, sambil meminta warga menilai bagaimana piawainya SOHE di debat terdahulu.

***

Sementara itu, di acara debat tanpa SOHE, ada empat orang panelis yang diundang. Panelis pertama adalah Eko Prasojo, pakar Otonomi Daerah dari Universitas Indonesia, Markowi Badri, Marketing Politik Analis dari Universitas Sriwijaya, Siroji pakar Pendidikan dari IAIN Raden Fattah Palembang dan pakar politik, Amin Suyitno juga dari IAIN Raden Fattah Palembang.

Menurut Rizal Malarangeng, ketua tim sukses ALDY, acara debat ini menjadi kesempatan para Calon untuk menunjukkan kemampan masing-masing.

Menurut Syafitri Irwan, ketua KPU Sumsel, debat publik ini merupakan rangkaian kegiatan kampanye sebagai ajang penajaman visi misi. Ia menilai, kehatidakhadiran SOHE tidak mengurangi arti penting acara.

Alhasil acara debat seperti tanya jawab panelis ke pasangan ALDY.

Pasangan ini mengemukakan masalah pendidikan dan sekolah gratis yang menjadi prioritas mereka.

Eko Prasojo lalu menanyakan bagaimana kemampuan APBD dalam upaya program ini. Bapak Alex meyakinkan bahwa APBD tidak seluruhnya ditanggung pemerintah Sumsel, melainkan dari APBD kabupaten kota juga.

Kemudian bapak Siroji menanyakan bagaimana mengenai keadilan dalam masyarakat. Bapak Alex menjawab usaha tersebut dimulai dengan menggratiskan sekolah untuk masyarakat.

Setelah diminta oleh Panelis Markoni, Bapak Eddy menjelaskan tentang program mengurangi angka pengangguran. Menurut beliau, dengan transparansi pemberian izin memasukkan tenaga kerja terdidik, akan lebih menyerap tenaga kerja, tapi pemimpinnya harus lebih dulu menjadi contoh baru bisa memberi teguran dan sanksi yang jelas. LOH kok??!! 🙂

Selain itu, pihak penyelenggara debat ternyata telah menyiapkan beberapa poin kontrak politik. Pasangan Aldy ditanya kesediaannya untuk menyetujui kontrak politik kepada Masyarakat sumsel.

Isi kontrak politik tsb antara lain:

1. Pasangan bersedia mengundurkan diri jika ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Bapak Alex menegaskan PASTi akan mundur. Bapak Eddy menambahkan, memang sebagai tersangka korupsi tidak boleh menjabat, jadi bukan cuma mengundurkan diri.

2. Jika ada tim sukses mereka meminta kompensasi proyek tetapi menabak prosedur, bapak Alex mengatakan tim suksesnya membantu ikhlas lahir batin. Namun jika ada, jelas ditolak.

Saat ditanya bagaimana jika tim sukses mengancam akan membeberkan pelanggaran, beliau menjawab, “Saya tidak akan takut, karena tidak Ada yang harus dibeberkan.” Beliau juga menyatakan bahwa ia dan timnya fair.

Aldy berjanji jika mereka menang, akan mengajak Sohe bergabung membangun Sumsel. Namun ketika ditanya jika mereka yang kalah, Alex mengatakan ada program-programnya yang dapat diberdayakan, kendati ia tetap optimistis akan menang.

Jajak Pendapat Kompas Tentang Pilkada Sumsel

Agustus 22, 2008 pukul 9:27 am | Ditulis dalam Dunia Ini Panggung Sandiwara.. | 22 Komentar
Tag: , , , , , , ,

Ini hasil jajak Pendapat Litbang Kompas masalah Pilkada Sumatera Selatan..

Sayang di Website ga ada illustrasi ato pie chartnya.

****

Memiliki hanya dua pasang calon dan keduanya sama berpengalaman dalam memimpin daerah membuat masyarakat Sumatera Selatan gampang-gampang susah dalam menentukan siapa yang paling layak memimpin provinsi itu lima tahun mendatang. Untuk sementara, kekuatan dukungan untuk kedua pasang kandidat terbelah antara timur dan barat.

Menarik untuk mengetahui motif apa yang mendasari pertimbangan seseorang dalam memilih sosok gubernur yang sesuai dengan gambaran idealnya. Dari beberapa motif yang mendasari preferensi memilih, paling tidak terdapat lima faktor yang menjadi pertimbangan. Kelima faktor itu adalah pengalaman memimpin daerah atau organisasi, tingkat pendidikan, popularitas, kekayaan, dan partai politik yang mengusung calon.

Dari kelima faktor itu, masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) yang dijajak pendapatnya oleh Litbang Kompas pada 14 Agustus lalu menempatkan faktor pengalaman memimpin, baik daerah maupun organisasi, sebagai pertimbangan utama. Faktor ini dipilih oleh sembilan dari 10 responden. Faktor yang menjadi pertimbangan terkuat berikutnya adalah tingkat pendidikan (82,3 persen).

Dari kedua faktor ini, pengalaman dan pendidikan, terlihat bahwa masyarakat Sumsel menginginkan sosok pemimpin yang benar-benar kompeten dan mumpuni dalam memerintah dan menyelesaikan persoalan daerah. Faktor lainnya seperti popularitas, kekayaan, dan partai pengusung, lebih sebagai prasyarat pelengkap.

Popularitas

Dari segi popularitas, calon gubernur nomor urut satu, Alex Noerdin, sudah banyak dikenal masyarakat Sumsel karena jabatannya sebagai Bupati Musi Banyuasin yang diembannya sejak 2001. Popularitas Alex tidak kalah dari pesaingnya Syahrial Oesman yang merupakan Gubernur Sumsel periode 2003-2008. Hasil jajak pendapat menyebutkan Alex dikenal oleh 97,7 persen responden. Perolehan ini beda tipis dengan popularitas Syahrial yang dikenal oleh 98,2 persen responden.

Keduanya juga dianggap layak menjadi orang nomor satu di Sumsel. Namun, ketika responden ditanya siapa di antara keduanya yang paling layak, untuk sementara Syahrial menang tipis dengan 39,1 persen suara dari total 555 responden. Adapun Alex 35 persen.

Popularitas ”sekondan” (posisi wakil) dipercaya dapat mendongkrak perolehan suara. Dalam hal ini, Helmy Yahya, selebritas yang tak asing lagi bagi masyarakat Sumsel, lebih populer dibandingkan dengan Eddy Yusuf, Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) yang mendampingi Alex. Dari 555 responden yang diwawancarai melalui telepon, hanya enam orang yang tidak mengenal sosok Helmy.

Helmy dianggap layak menjadi wakil mendampingi Syahrial, menurut pengakuan 39,1 persen responden. Pengakuan ini tidak berbeda jauh dengan Eddy yang dianggap layak juga menjadi sekondan oleh 38,2 persen responden.

Secara berpasangan, Syahrial Oesman-Helmy Yahya lebih dijagokan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel periode 2008-2013.

Jika pemilihan gubernur diselenggarakan pada saat jajak pendapat ini dilaksanakan, Syahrial Oesman-Helmy Yahya dipilih oleh 54,5 persen responden. Adapun pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf dipilih oleh 45,5 persen responden.

Penguasaan wilayah

Jajak pendapat untuk melihat popularitas dan peluang kemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dilakukan kepada masyarakat yang berdomisili di 12 kota, yakni Palembang, Kayu Agung, Pangkalan Balai, Sekayu, Batu Raja, Lahat, Lubuk Linggau, Martapura, Muara Enim, Muara Dua, Pagar Alam, dan Prabumulih.

Dari 12 kota itu, pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya banyak diunggulkan di delapan wilayah di Sumsel bagian timur, yaitu Palembang, Pangkalan Balai, Kayu Agung, Batu Raja, Martapura, Muara Enim, Pagar Alam, dan Prabumulih. Di setiap kota itu persentase responden yang menyatakan akan memilih pasangan nomor urut dua ini berkisar 37 hingga 54 persen.

Ke delapan wilayah ini, secara politik, mayoritas merupakan basis massa partai yang mendukung pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf, yaitu Partai Golkar dan Partai Demokrat. Pada Pemilu 2004 Partai Demokrat menguasai Palembang, sementara Partai Golkar menang di 10 kabupaten/kota di Sumsel. Tiga kabupaten/kota lainnya, yaitu Ogan Komering Ilir, Muara Enim, dan Prabumulih menjadi basis kekuasaan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kini menjadi salah satu partai yang mendukung Syahrial Oesman-Helmy Yahya.

Di wilayah Batu Raja, ibu kota Kabupaten OKU, tempat Eddy menjabat bupati sejak tahun 2003, belum berhasil dikuasai oleh Eddy dan pasangannya karena lebih banyak responden yang memilih pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya.

Pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf unggul di wilayah bagian barat, terutama Sekayu, Lahat, dan Lubuk Linggau. Rentang perolehan persentase pasangan ini antara 37 persen dan 70 persen. Pada Pemilu 2004 ketiga wilayah ini dimenangi Partai Golkar. Sekayu sebagai ibu kota Kabupaten Musi Banyuasin jadi tempat Alex bekerja sebagai bupati.

Dilihat dari loyalitas partai, tidak ada jaminan responden akan menyesuaikan pilihannya sesuai dengan calon yang diusung oleh partai yang dipilih pada Pemilu 2004. Responden yang pada Pemilu 2004 memilih partai pendukung pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf, misalnya, sebagian besar malah menyatakan akan memilih pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya (42,3 persen). Hanya 34,3 persen yang akan memilih Alex Noerdin-Eddy Yusuf. Sementara itu, 23,4 persen masih belum memutuskan atau merahasiakan.

Adapun responden yang pada Pemilu 2004 memilih partai yang sekarang mengusung Syahrial Oesman-Helmy Yahya masih dominan konsisten akan memilih pasangan ini (47,6 persen). Namun, sebanyak 33,3 persen menjatuhkan pilihannya kepada pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf.

Dilihat dari aspek primordialisme lainnya, responden pemilih mula, usia 17 tahun hingga 24 tahun, menjatuhkan pilihannya kepada pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya. Adapun pemilih yang berusia 46 tahun ke atas lebih memilih Alex Noerdin-Eddy Yusuf.

Baik masyarakat pendatang maupun penduduk asli memilih Syahrial Oesman-Helmy Yahya. Namun, Syahrial Oesman-Helmy Yahya lebih banyak memikat responden dari kalangan terdidik, yaitu kalangan yang berpendidikan mulai dari SLTA hingga pascasarjana. Responden yang berpendidikan hanya sampai SLTP lebih menggantungkan harapannya kepada pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf. (GIANIE/Litbang Kompas)

Debat Calon Gubernur-Wakil Gubernur Sumatera Selatan

Agustus 18, 2008 pukul 4:32 pm | Ditulis dalam Dunia Ini Panggung Sandiwara.. | 18 Komentar
Tag: , , , , , , , , , , ,

Jam 7 malam tanggal 18 Agustus 2008, TVOne menayangkan Debat calon Gubernur-Wakil Gubernur Sumatera selatan periode 2008-20013, langsung dari Hotel Novotel Palembang.

Pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf dan Syahrial Oesman-Helmy Yahya untuk pertama kalinya ditemukan dalam debat terbuka yang diselenggarakan secara nasional dan ditonton banyak orang.

Konsep debatnya sudah cukup bagus, sih. Sayangnya isi debat itu nggak seperti yang diharapkan.

Pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf banyak menggunakan kalimat yang terkesan “mengungkit-ngungkit” hasil kerja Syahrial Oesman, Gubernur Sumsel 2003-2008. Waktu yang diberikan pun banyak habis pada pernyataan-pernyataan yang sebetulnya nggak berbobot untuk dimasukkan dalam forum seperti ini. Kesannya “kayak ga pernah debat aja”.

Pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya terlihat lebih santai dalam menghadapi “sindiran” dari kubu Alex Noerdin. Ada banyak jawaban yang melenceng dari pertanyaan. Namung jawaban-jawaban yang diberikan pun cukup berbobot.

Untuk menguji kesiapan kedua pasangan, ada tiga orang Panelis. Semua panelis memberikan pertanyaan yang cukup oke, walo pada penyampaiannya agak kurang berhasil. Jawaban yang diberikan oleh kedua pasangan pun cukup meyakinkan. Namun, beberapa kali kedua pasangan mengalami deadlock.. Hehe.. Banyakan deadlocknya dari kubu Alex Noerdin.

Hal-hal yang dibahas antara lain masalah keberhasilan Alex Noerdin dalam memimpin Muba, langkah2 peningkatan kesejahteraan, janji-janji masing-masing pasangan calon gubernur, serta blow up tentang “PERUBAHAN” yang dielu-elukan oleh Alex Noerdin-Eddy Yusuf. Namun Helmy Yahya membalasnya dengan mengatakan, “Sebenarnya kalau bicara perubahan, Sayalah perubahan itu.”

Apapun,,, nantinya masyarakat yang akan menilai..

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.